Orakoberleren

Made by and for A. Susanto

View the Project on GitHub

FSTVLST di Proudphere Salatiga

Proudphere hadir di Salatiga. Penampil utama? FSTVLST.

Saya diajak teman yang die-hard untuk menonton tiap gigs FSTVLST, Anton namanya. Dia datang dari Solo — kota ia menimba ilmu. Mampir ke rumah untuk menjemput saya. Malam minggu itu, saya laptopan di kamar saja niatnya.

“Tiketnya gratis. Asal bawa bungkus rokok.” tulisnya lewat WhatsApp.

Tentu, bukan karena gratis saya datang. Saya ini, belum pernah sekalipun menyaksikan Farid Stevy dan kawan-kawan manggung langsung.

FSTVLST main jam 9 malam. Kurang lebih. Lagu-lagu hits mereka, ditampilkan di awal. Di pertengahan, Farid meminta audiens sebutkan lagu yang susah untuk mereka cover. Hasilnya, FSTVLST meng-cover beberapa lagu, di antaranya, “Don’t Look Back in Anger”-nya Oasis, lagu milik Sheila On 7, Seringai, dan beberapa lain yang saya lupa. Hanya untuk pamer skill, nampaknya. Hahaha. Tapi seru.

Sepanjang acara, saya dan audiens yang hadir sibuk sing-along dan berdansa-ria. Lagu-lagu seperti, “Hujan Mata Pisau”, “Tanah Indah Untuk Para Rusak dan Terabaikan”, “Ayun Buai Zaman”, itu penggiring masa yang oke. Saya hapal luar kepala lirik-liriknya. Puitis. Keren. Bersayap. Sarat makna.

Gigs kecil di Salatiga itu, membuat saya pengin nonton FSTVLST lagi. Intim sekali band ini. Menurut saya, band ini komunikatif di panggung, jadi semakin menarik. Kontak dengan audiens juga bagus. Paket komplit. Makanya, nagih. Pengin nonton lagi dan lagi.

Sayang memang, saya tak sempat membawa CD mereka yang saya beli di Lokananta. Lewat tulisan ini, ingin mengingatkan mereka juga untuk segera membuat album baru. Minimal rilis single.

*20 Januari 2019

back to homepage