Susanto

View the Project on GitHub

Nasib Kita Tergantung Mindset Kita

Tahun 1987 saya pertama kali bersentuhan dengan Bank untuk jadi debitur. Waktu itu usia saya 24 tahun. Collateral engga ada. Tapi saya ada long-term kontrak ekspor keranjang rotan. Semua bank minta collateral. Rekening saya untuk dijadikan Personal guarantee engga cukup. Saya bertemu dengan mentor saya. Dia orang Tionghoa. Setelah saya ceritakan masalah saya, dia tersenyum.

“Kamu harus ketemu dengan Dirut Bank langsung. Hanya dia yang bisa mengerti rencana kamu dan berani ambil resiko.” kata mentor saya.

Siapa saya yang bisa bicara dengan Dirut bank. Usia masih muda. Business masih kelas gurem. “Kamu dan dia sama saja. Sama sama dirut perusahaan dihadapan UU. Jangan takut. Temui dia. Kalau ketemu, pastikan dalam 3 menit dia tertarik dengan rencana kamu.” Nasehat mentor saya.

Saya datang ke kantor pusat bank itu di kota. Jam 7 pagi saya sudah ada di ruang tunggu Dirut itu. Jam 7.30 Dirut bank itu masuk ke kamar kerjanya. Saya membungkuk memberikan hormat. Dia tersenyum. “Ada apa?”

“Boleh saya bicara sebentar pak.”

“Kamu nasabah bank?”

“Ya Pak.”

Dia tatap saya sebentar. “Maaf saya engga ada waktu. Lain waktu aja.” Katanya tersenyum. Saya mengangguk. Besok saya datang lagi. Ditolak lagi. Saya butuh waktu 4 minggu, datang setiap hari. Barulah dia terima.

Ketika duduk menghadap meja kerjanya, saya langsung ceritakan masalah saya. Dia tersenyum.

“Gini, yakinkan pembeli kamu di Taiwan itu untuk mau memberikan red clause LC minimal 30%. Kalau dia mau, kamu datang ke saya.”

Saya bengong. Begitu bijak dia menolak saya. Saya temui mentor saya.

“Wajar saja. Yang pertama harus kamu yakinkan adalah pembeli. Kalau hanya sekedar kontrak, semua orang bisa. Tetapi kontrak yang memberikan kamu kepercayaan bukan sekedar delivery tetapi juga mitra, itu nggak mudah.” Kata mentor saya bijak.

Saya lakukan ekspor pertama dengan modal sendiri. Saya kirim saja sebagai sample 1 kontainer tanpa LC. Saya tahu itu beresiko. Kalau dia tidak bayar karena alasan spec dibawah standar. Habis saya. Ternyata dia senang. Tapi “Saya akan bayar setelah 10 kontainer delivery sesuai kontrak.” Katanya via fax.

Saya senang. Tetapi darimana modal? Saya tidak mau terus dalam situasi tidak pasti. Saya terbang ke Taipeh untuk menemui buyer.

“Maafkan saya. Saya tidak bisa delivery karena saya tidak ada modal. Maafkan saya.” Kata saya berlutut. Lama dia pandang saya.

“Jadi gimana solusinya?” tanyanya.

“Apakah mungkin anda keluarkan red clause LC 30% dari kontrak” kata saya. “Bank saya mau memberikan kredit ekspor kalau sarat LC itu red clause.” saya melanjutkan.

Akhirnya setelah berpikir sehari, besoknya dia sanggupi.

Sampai di Jakarta, saya menghadap Dirut bank itu lagi. Dia tersenyum membaca Performa Invoice dengan sarat Red Clause LC. “Ajukanlah proposal kredit ke bagian kredit ya.” Katanya berwibawa namun tidak hilang wajah ramahnya.

“Terimakasih, Pak. Segera saya ajukan kredit sekarang.”

Setelah dapat kredit. Kepercayaan saya jaga. Bunga dan cicilan saya bayar on-time. Hubungan pribadi dengan Dirut bank saya jaga. Setiap dia ulang tahun saya selalu kirim ke rumahnya. Itu sampai sekarang. Walau dia sudah pensiun. Kini dia jadi mentor saya.

Saya teringat nasehat papa saya. “Kalau kamu ingin naik tangga sosial maka kamu harus memerdekakan pikiran kamu. Kamu harus keluar dari stigma bahwa kamu lahir dari keluarga miskin. Kamu tidak sarjana. Kamu bukan etnis China. Nasib kamu ditentukan oleh pilihan cara kamu berpikir. Kalau pikiran kamu terjebak dengan realitas siapa kamu, maka masalah dan kesulitan akan menelan kamu. Jangan biarkan masalah dan kesulitan menghentikan kamu. Kamu harus terus bergerak. Kepada orang China-lah kamu harus belajar. Mereka tidak manja dan pandai merebut hati orang. Setelah itu mereka berjuang tiada henti untuk menjaga kepercayaan. Semoga suatu saat kamu bisa punya mitra orang China atau orang Barat. Bahwa kamu putra terbaik kami dan kami tidak main main mendidik kamu.”

Usia 45 tahun setelah sepuluh tahun lebih papa saya meninggal saya punya direktur orang China, Hong Kong, Inggris, Korea, Rusia. Terbukti benarlah nasehat papa saya bahwa bukan karena agama atau ras membuat orang berbeda tapi sikap mental dan lebih tinggi lagi adalah akhlak berani bersaing secara terpelajar dan terhormat. Tanpa mengeluh, tanpa iri dengan kesuksesan orang lain. Senantiasa rendah hati.


Kisah ini saya ambil dari, blognya Raldi A. Koestoer, berikut link sumber.